ShoutMix chat widget

Disclaimer !

MOST OF APPLICATION IN THIS BLOG IS UNSIGNED, SO IF YOU WANT TO USE PLEASE SIGNED THE APPLICATION, READ HERE
ALL OF DOWNLOAD LINK AT THE END OF ARTICLE, SO IF YOU WANT TO DOWNLOAD THE APPLICATION, FIND THE DOWNLOAD LINK AT THE END OF ARTICLE

Sabtu, 24 Desember 2011

Lumpur dan Kobaran Api

Lumpur dan Kobaran Api
Oleh : Sonia Rahmi Nachia

Bibirku mengatup rapat ketika semburan hawa dingin menyebar keseluruh tubuhku. Beberapa kali gelombang pasang menenggelamkanku kedalam indahnya bawah laut pantai selatan Pulau Bali. Melunturkan semua memori-memori masa silam ke dalam kelamnya air laut. Menetralkannya, menyeretnya jauh ke dalam palung samudra dunia, ku hisap kembali sisa–sisa  ampas yang muncul kepermukaan air bersama gelembung-gelembung kecil yang pecah dipermukaan air yang memisahkan jarak ku dengan sosok makhluk sempurna dihadapanku.
          Tubuhku mengejang ketika sebuah fikiran darinya menghantamku hingga pecahan itu hancur berkeping-keping, seperti menabrak bongkahan batu yang diam membeku. Entah sebuah pertanyaan atau pernyataan yang terlontar dari bibirnya, yang bisa ku tangkap hanya bagian dari diriku yang harus tetap bisa berdiri tegak tanpa terhuyung ke lantai beberapa menit lagi. Fikiranku kembali kepada sosok sempurna itu ketika sinar matahari senja menyadarkanku akan apa yang harus ku lakukan.
          Ku angkat tubuhku menuju tempat yang bahkan terasa lebih dingin dari sebelumnya, ya karena cairan asin dan lengket yang membasahi sekujur tubuhku. Fikiranku membeku saat berjalan tersaruk-saruk menuju tempat dimana aku bisa duduk-setidaknya-dan menenangkan fikiran sejenak. Cukup lama untukku bisa berfikir lebih logis sebelum kami menyusuri jalan menuju sebuah tempat di bagian kecil kota kami,
          Sepanjang perjalanan, fikiranku berkutat tentang bagaimana respon yang akan aku terima saat aku datang nanti. Siapkah aku menerima setiap penolakkan akan diriku? -segala kemungkinan akan ku pertimbangkan sebelum menerima kemungkinan terburuk. Sanggupkah aku dengan cepat bertengger di tembok ketika aku akan terjatuh nanti? Mampukah ia menyadarkanku ketika aku mulai memasuki alam bawah sadarku? Mampukah ia menangkapku dengan sikap protektif ketika penolakkan membuat keseimbangan ku rapuh? Semua pertanyaan yang terlontar tidak mendapat jawaban dari siapapun-pasti-karna aku tidak melontarkannya. Beberapa kali aku mencoba mengabaikan fikiran-fikiran itu untuk mencoba berfikir apa yang sebaiknya kulakukan ketika waktunya tiba -ya memang itu yang seharusnya kulakukan saat ini. Tapi sangat sulit mengendalikan diri untuk tidak memikirkan setiap kemungkinan, sangat sulit mencoba memfokuskan diri disaat seperti itu, seperti kau sedang mencoba berenang dalam lautan api. Mencoba tetap berenang ditengah kobaran api yang membakar kulitmu -dan kau mencoba untuk mengabaikannya.
          Dalam hati aku menghitung dentingan detik demi detik, aku berpatok pada sesuatu yang menggelepar-gelepar di dalam dadaku, terlalu cepat -dua kali lebih cepat dari biasanya. Hitungan ku kacau, seperti fikiranku saat ini. Ku coba menarik nafas dalam-dalam untuk memastikan aku tidak akan kekurangan oksigen untuk bernafas atau setidaknya aku memiliki persediaan oksigen ketika aku lupa bernafas nanti.
          Perjalanan kami mulai melambat ketika kami mendekati sebuah mobil merah yang terparkir diteras sebuah rumah mungil di ujung jalan. Aku tidak terlalu memperhatikan mobil apa itu-ya walaupun aku memperhatikan aku bisa memastikan, aku juga tidak akan tertarik untuk memikirkan ataupun mencari tahu apa nama mobil itu. Beberapa detik kemudian kami berhenti tepat di depannya. Dibelakangnya, sebuah pintu terbuka lebar, melalui pintu itu pandangan ku mulai berpencar mencari sesosok wajah keibuan yang menyambut kami -lebih tepatnya aku- dengan senyum hangatnya. Ya, yang ku tahu aku hanya bisa berharap begitu. Setelah beberapa detik mataku berkelana, akhirnya aku menemukan sosok mungil berwajah keibuan dengan senyum hangat menyapa kami. Aku mengehembuskan nafas pelan pelan -ku harap tak satupun dari mereka menyadarinya- dan tersenyum menyapanya sekaligus mendekat untuk mencium tangannya. Aku berdoa tangan ku tidak terlalu dingin dan berkeringat ketika  tangan kami bersentuhan, karena itu pasti akan terasa aneh ditengah cuaca seperti ini.
Sesekali mataku kembali berputar mencari sesosok laki-laki yang dalam bayanganku bertubuh kurus, berkulit putih, dengan wajah tampan -yang ku tahu sebagian darinya diwariskan kepada putranya, sosok sempurna disampingku. Wajahnya berbentuk bulat dengan bibir tipis yang dilengkapi kumis tebal yang duduk sambil merokok, minum kopi atau semacamnya. Namun dengan pandanganku yang terbatas ini aku tak menemukan sosok yang kucari itu.
Entah perasaan apa yang menyelimutiku saat itu, perasaan lega karena penolakkan yang kukira akan kuterima ternyata tak terjadi atau perasaan cemas tidak menemukan sosok laki-laki yang dalam fikiranku akan kutemukan dalam ruangan ini. Berkali-kali aku mengingatkan diri akan kesadaran untuk tetap menjaga keseimbangan dan menjaga ekspresi wajahku yang seperti buku terbuka.
Badanku terasa lengket ketika aku berjalan terhuyung-huyung menuju kamar mandi rumahnya-tempat dimana aku bisa mengatur nafasku sejenak. Perlengkapan yang ku bawa kugenggam erat-erat demi menjaganya tetap melekat pada tanganku sebelum aku melakukan hal memalukan dengan menjatuhkannya atau bahkan aku yang akan tersungkup ke lantai karena tidak memerhatikan langkah demi berkonsentrasi mendengarkan bunyi langkah yang ku harap tidak mengikuti arah ku, karna pada saat ini yang kuinginkan adalah kesendirian untuk menenangkan diri.
Ruangan kecil yang sangat ideal untuk satu orang itu sangat membuatku nyaman. Kusandarkan diri dibalik pintu, memejamkan mata membayangkan beberapa kemungkinan fikiran orang tentang sosok ceroboh yang kini terkulai lemas dibalik pintu kamar mandi. Satu penolakkan yang kukira akan ku dapatkan ternyata terlewati dengan baik, cukup membantuku berfikir dengan lebih baik. Ditambah kesendirianku dalam ruangan ini membuatku bisa menarik kesadarkanku jauh-jauh dari alam bawahsadarku yang dari tadi berusaha menggapaiku untuk menyeretku kedalamnya. Ku gantung baju gantiku buru-buru sebelum ada orang yang menyadari apa yang kulakukan tanpa suara didalam kamar mandi. Dengan cukup tergesa-gesa ku buka pakaianku -terasa aneh tidak menegenakan sehelai benang pun diruangan asing ini, akhirnya kuputuskan untuk tetap menggunakan sebagian pakaianku. Kuhidupkan air dari keran, melihatnya mangalir begitu deras membuatku tak bisa menahan diri untuk berlama-lama tidak menyentuhnya. Segera ku letakkan tangan ku dibawahnya dan mencipratkannya kewajahku. sejuknya air yang menyentuh wajahku mempercepat gerakkanku untuk mengambilnya dengan cedok. Ku biarkan air itu mengalir diseluruh tubuhku, menjernihkan otakku yang setengah gila ini. Tak ingin beranjak pergi dari ruangan itu sebelum waktu menyadarkanku bahwa aku sudah cukup lama berada didalamnya. Dengan pasrah ku pakai semua pakaianku lalu beranjak keluar.
Melangkah keluar dengan kepala sedikit ku tundukkan untuk memastikan aku melakukan hal yang benar dan tidak melakukan hal hal yang bisa membuatku memerah seperti menggunakan baju terbalik atau semacamnya. Segera ku masukkan semua peralatanku saat si pemilik kamar melewatiku untuk masuk kekamar mandi. Dalam fikiranku, tidakkah ia bisa mandi saat aku mandi tadi ? apa yang harus ku lakukan setelah semua yang kulakukan usai ? apakah aku harus berdiam diri disini? Ataukah beranjak keluar ? tegateganya dia membiarkanku disini sendirian. Dalam hati aku merencanakan apa yang akan ku lakukan padanya ketika kita keluar dari sini. Ingin rasanya ku gigit sebagian dari tubuhnya untuk menyadarkannya betapa menjengkelkannya ia saat itu. Aku beranjak dari tempat dudukku. Bergerak ke sebuah benda yang tertempel didinding. Benda yang memantulkan bayangan seorang wanita berambut hitam panjang yang usang dan kusut menambah semburat kekhawatiran dan perasaan takut yang terpancar disudut-sudut matanya. Kusematkan sisir ku kedalam sela sela rambutku. Kuperlambat gerakkan ku demi memperbanyak waktu yang ku butuhkan untuk tetap melakukan sesuatu sambil berdoa dia cepat keluar dari kamar mandi dan menyelamatkanku dari hantaman masa yang memergokiku mencuri. Gerakkan lambat yang ku lakukan tadi ternyata tidak terlalu membuahkan hasil, beruntungnya seorang bocah imut datang dan duduk tepat disampingku menghadap ke komputer yang terpasang rapi diatas meja. Aku memalingkan wajah menatapnya menggerakkan cursor kesegala arah. Keperhatikan layar, ia membuka sebuah game yang sesungguhnya tidak begitu ku suka. Tak jarang aku benci bermain game. Game yang bisa membuat kepala ku berputar dan isi perutku berontak ingin keluar. Kutatap wajah bulat dengan dua buah semburat warna tomat yang menempel dipipinya, begitu asyik bermain tanpa memperdulikanku yang memperhatikan gerakkanya. Rasa penasaran membuncah ditubuhku, aku merangkak lebih mendekat kepadanya. Duduk dengan arah yang sama dengannya menatap layar sambil menarik otot pada kerongkongan ku untuk bersiap bila suatu pemborantakkan terjadi. Tak seburuk yang ku bayangkan, aku bisa menikmati permainan itu, bahkan ikut terlonjak ketika satu nyawa terhapuskan.
Akhirnya yang ku tunggu-tunggu muncul juga dari balik pintu disebelah aku dan adiknya duduk. Ku alihkan perhatianku kepadanya, sesaat ia mondarmandir keluar masuk kamar, lalu duduk didepan komputer dan membuka beberapa website yang terasa asing bagiku. Aku mendengar suara teriakan seorang laki-laki berjarak hanya beberapa meter di balik tembok kamar ini. Suara teriakan dengan nada tinggi menandakan sebuah kemenangan, ku sadari apa yang ia katakan tadi. Ayahnya suka menonton bola -sama sepertiku- dan aku yakin acara yang ditonton adalah pertandingan sepak bola. Aku beranjak dari tempatku, dan berusaha mendekati pintu kamarnya. Tiba-tiba sosok wanita berwajah keibuan itu muncul tepat didepanku. Dengan perasaan gugup ku katakan aku ingin bersalaman dengan papanya. Wanita cantik itu mempersilahkan ku, seketika perhatian ku terpusat pada apa yang akan ku hadapi beberapa detik dari sekarang. Ku lihat sosok ayah yang beberapa detailnya melenceng dari bayanganku berpaling menatapku dengan senyum. Ku tundukkan kepala sejenak sambil tersenyum lalu menggapai tangannya untuk menciumnnya. Kekhawatiran ku tadi tentang apa yang akan ku katakan saat ini terasa percuma. Pertanyaan ringan terlontar dari bibirnya yang sedang berasap kepadaku. Ku jawab dengan keringat dingan bercucuran-ku harap ia tidak memerhatikan atau aku berharap ia berfikir kalau aku tidak sempurna membersihkan tetes tetes air yang tersisa dalam tubuhku. Aku balik kekamar dengan setengah berlari, ya walaupun ku tahu aku tidak berlari, hanya perasaanku saja yang berlari kesudut ruangan terpencil untuk bersembunyi. Aku balik kekamar tempat salah satu sosok paling berhargaku sedang menatap layar komputer dengan senyum mengejek mengembang disudut-sudut bibirnya. Perasaan jengkel kembali menyeruak, ingin rasanya ku tempelkan bibirku padanya untuk menghentikan seringaian menjengkelkan itu. Dengan setengah menahan perasaan kesal ku meminta kepadanya untuk menghidupkan tv yang ada didepan tempat tidurnya. Beberapa menit aku menikmati pertandingan itu dengan perasaan waswas dan khawatir. Betapa sopannya bertamu kerumah orang menghidupkan tv dengan acara yang sama hanya berjarak beberapa meter. Kupaksa dia -yang sedang asyik dengan komputernya- menemaniku untuk ikut menonton diluar bersama papa dan mamanya. Beberapa kali ia menolak permintaanku, sampai akhirnya mama masuk kekamar dan memintaku untuk bergabung menonton diluar. Andaikan dia tau betapa sangat menyebalkannya ia saat itu. Andaikan ia tau beberapa saat lagi ia takkan lolos dari gigitan singa betina yang kelaparan. Kami ber-5 menonton tv diruang tengah, walaupun bisa dikatakan yang menonton hanya aku dan papanya. Aku mencoba membagi kosentrasi antara memperhatikan orang disekitarku, pertadingan yang ku tonton, dan berusaha menjaga agar aku tidak terlalu pasif-walaupun aku tidak pandai melakukannya, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin.
Seperti berada diatas lumpur hidup yang apabila melakukan sedikit kesalahan kamu akan mati tenggelam bersamanya. Fikiran itu muncul ketika ia pergi untuk membeli makanan untuk kami. Bayangkan, aku berada sendirian disana. Ku coba mengontrol setiap perasaan khawatir yang muncul. Beberapa saat keheningan menyeruak ke sudut sudut ruangan, terasa aneh, ku mulai dengan memecah keheningan itu melalu pembicaraan yang seakan ku tujukan kepada semua yang ada di ruangan itu, walaupun yang pasti hanya papa yang akan menjawab pertanyaanku itu.
Perasaanku mulai sedikit merileks ketika puluhan menit telah berlalu, ketika pembicaraan tidak terkesan terlalu tegang. Papanya membicarakan tentang mengajakku liburan ke Yogyakarta. Apa yang ku khawatirkan sejak tadi seakan musnah. Mereka semua sungguh menerimaku dengan sangat baik, tubuhku kembali mengejang ketika papa dan mamanya menawariku untuk diantar pulang karena cuaca diluar yang sedikit agak kurang bersahabat-mungkin bagi sebagian orang, tapi bagiku cuaca ini sangat sempurna. Apakah ide bagus bila aku diantar pulang oleh mereka? Sepertinya tidak, selain merepotkan, sedikit sandiwara yang aku dan anaknya lakukan pasti akan membuatnya tidak nyaman. Namun dengan sedikit alasan kami bisa meyakinkannya kalau saja kami bisa pulang tanpa mereka antar.
Setelah pertandingan selesai dan ku rasa hari sudah cukup larut ditambah dengan deringan hapeku yang tiada henti membuatku memutuskan untuk segera pulang. Kami pulang dengan setengah menjadi batman -ya, hanya dia. Aku tidak.
Betapa menyenangkannya hari ini, melepas lelah dipantai yang indah, sambutan dan penerimaan yang hangat dirumahnya, dan tak kalah pentingnya club kesayanganku mengukir rekor dikancah dunia. Ya , sempurna ! walaupun terlepas dari apa yang harus ku hadapi ketika pulang nanti.
KARYA YANG JAUH DARI SEMPURNA
                                                                                                       
 (copyright from : http://reinia-chia.blogspot.com/2011/12/lumpur-dan-kobaran-api.html)